Perubahan sistem rank di beberapa game – Sistem rank adalah jantung dari mode kompetitif di sebuah game. Lewat sistem ini, pemain bisa diukur kemampuannya, diberi tantangan naik tier, dan bersaing secara adil dengan pemain setara. Namun, perubahan sistem rank di beberapa game populer belakangan ini memunculkan perdebatan: apakah perubahan itu membuat permainan jadi lebih adil atau justru bikin frustrasi?

Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa game terkenal yang baru-baru ini mengubah sistem rank mereka—apa alasannya, bagaimana dampaknya, dan respon komunitas terhadap perubahan itu.
1. Valorant: Sistem MMR dan Rank Adjustment Terbaru
Riot Games mengubah sistem matchmaking rating (MMR) dan visual rank di Valorant dalam beberapa episode terakhir. Salah satu perubahan besar adalah pemisahan lebih jelas antara rank dan performa real-time.
Apa yang berubah:
-
Penilaian lebih berat pada kemenangan, bukan performa individu.
-
Perubahan rank per pertandingan bisa ekstrem (naik/turun banyak poin).
-
Rank reset di setiap episode jauh lebih drastis dibanding sebelumnya.
Dampaknya:
-
Menekan solo carry yang bermain baik tapi kalah terus.
-
Membuat pemain dengan winrate tinggi lebih cepat naik.
– Banyak pemain merasa kehilangan rank meski performa mereka stabil.
– Duo/party match kadang menghasilkan mismatch dengan tim terlalu kuat/lemah.
Komunitas: Terbelah. Beberapa pro player menyukai pendekatan kompetitif ini, tapi banyak pemain kasual merasa sistemnya terlalu “keras”.
2. Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) – Rework Point Rank & Bintang Protection
Moonton melakukan penyesuaian besar pada Rank Protection dan Star-Raising Point untuk memperbaiki matchmaking dan mencegah pemain stuck.
Perubahan utama:
-
Sistem Protection Point bisa menyelamatkan satu bintang saat kalah.
-
Bonus Point kini bisa mempercepat naik rank jika performamu dinilai unggul.
-
Performa tim dan kontribusi individu ikut diperhitungkan, bukan cuma menang-kalah.
Dampaknya:
-
Memberi apresiasi lebih untuk pemain yang “main bagus meski kalah.”
-
Membantu solo player agar tidak terperangkap di tier rendah.
– Kadang menimbulkan kebingungan soal “kenapa poin saya sedikit padahal MVP?”
– Sistem masih bisa dimanipulasi jika satu tim sengaja feeding atau AFK.
Komunitas: Umumnya positif. Banyak pemain merasa sistem baru ini lebih adil bagi yang benar-benar bermain maksimal.
3. PUBG Mobile: Update Sistem Tier & Season Progression
PUBG Mobile mengubah sistem tier dengan menambahkan Legacy Title dan Regional Ranking, serta mengatur ulang sistem reset tiap season agar tidak terlalu drastis.
Perubahan yang terasa:
-
Tier reset kini lebih lembut (dari Ace turun ke Diamond, bukan ke Gold).
-
Ada reward tambahan untuk pemain yang aktif push rank di tiap fase season.
-
Legacy Rank Title memberi insentif jangka panjang.
Dampaknya:
-
Pemain tidak perlu grind ulang terlalu jauh setelah reset.
-
Lebih banyak pemain bertahan di rank tinggi.
– Beberapa pemain merasa season reward makin “gampang” didapat, mengurangi prestige.
– Rank boost party makin banyak karena minim penalti.
Komunitas: Netral cenderung positif. Perubahan ini dianggap mendukung pemain aktif tanpa terlalu menyulitkan yang main santai.
4. Apex Legends: Ranked Overhaul – LP System
Apex Legends memperkenalkan sistem LP (Ladder Points) baru menggantikan RP, serta menghapus entry cost dan memperbesar nilai placement dalam ranked season 17 ke atas.
Fitur baru:
-
Tidak ada biaya masuk ranked (free-to-queue).
-
Kill point dibatasi, placement jadi penentu utama.
-
Matchmaking menggunakan hidden MMR, bukan rank visual.
Pro dan kontra:
-
Mendorong pemain bermain lebih strategis, tidak sekadar agresif kill banyak.
-
Mengurangi farming kill dan third-party berlebihan.
– Banyak pemain “camping” demi placement tinggi, bikin gameplay pasif.
– Perbedaan skill antar tim di lobby terasa jauh karena matchmaking MMR.
Komunitas: Banyak pro player mengkritik karena gameplay ranked terasa “pasif” dan tidak rewarding untuk skill murni. Namun, sistem ini bagus untuk pendatang baru yang ingin naik rank secara progresif.
5. Overwatch 2: Rank Visibility dan Placement Adjustment
Blizzard melakukan perubahan besar pada sistem rank Overwatch 2, di mana pemain harus memainkan 5–7 match baru bisa melihat perubahan rank, serta sistem matchmaking internal makin diperketat.
Perubahan utama:
-
Tidak ada “visible” rank change per match (disesuaikan per batch 5/15 match).
-
MMR hidden sangat berpengaruh terhadap lawan yang dihadapi.
-
Skill tier tak selalu mencerminkan MMR real-time.
Dampak:
-
Mengurangi “rank anxiety” karena tidak langsung tahu turun/naik tiap match.
-
Fokus pada konsistensi performa, bukan satu-dua game hebat.
– Banyak pemain frustrasi karena merasa tidak tahu progres mereka.
– Kesenjangan antar tim masih terasa meskipun MMR diatur ketat.
Komunitas: Campur. Pemain kasual menyukai pendekatan ini, sedangkan pemain kompetitif butuh transparansi lebih baik.
Apa Artinya Perubahan Ini Buat Kamu?
Buat kamu yang aktif push ranked, perubahan sistem ini berdampak pada:
-
Cara kamu bermain: Harus adaptif. Kalau sistem menghargai win, maka fokus objektif lebih penting dari kill.
-
Pemilihan waktu bermain: Matchmaking makin ketat di jam sibuk. Pilih waktu yang optimal untuk solo atau party.
-
Mentalitas kompetitif: Jangan cuma ngejar rank visual, tapi juga konsistensi dan kerja sama tim.
Kesimpulan
Perubahan sistem rank di berbagai game menunjukkan bahwa developer serius ingin menciptakan sistem yang adil, kompetitif, dan memuaskan semua jenis pemain. Tapi di sisi lain, tak semua sistem cocok untuk semua orang.
Sebagai pemain, kuncinya adalah fleksibel dan cepat beradaptasi dengan sistem baru. Pahami cara kerja rank, baca patch note, dan terus evaluasi gaya bermainmu. Karena di dunia kompetitif modern, bukan hanya skill yang penting—tapi juga strategi memahami sistem di balik layar.